Setiap hari banyak terlihat orang berpakaian rapi, berseragam, ataupun berjas lalu lalang di jalan dengan mengendarai sepeda, sepeda motor, mobil sampai angkutan umum. Kegiatan tersebut dilakukan karena tanggung jawab dari sebuah profesi. Seperti orang yang berprofesi sebagai dokter pergi untuk menjalankan kewajibannya di rumah sakit, seorang murid atau guru pergi ke sekolah, seorang karyawan pergi ke kantor, dan lain-lain.
Kegiatan tersebut biasanya dimulai pada pagi hari di tempat tujuannya masing-masing dan berakhir sore atau malam hari begitu seterusnya. Tetapi hal ini tidak berlaku dalam profesi bidang jurnalistik. Seorang jurnalis bekerja tidak dengan seragam dan memakai jas seperti orang kantoran. Penampilan rapi bagai pejabat pemerintah tidak dituntut dalam perkerjaan ini. Bahkan hanya dengan memakai pakaian casual dan bersepatu safety seperti sepatu satpam atau dengan memakai pakaian santai pun seorang wartawan tetap bisa menjalankan tugasnya, terkecuali apabila bertemu orang penting seperti presiden atau petinggi negara lainnya.
Profesi sebagai jurnalis tidak menuntut penampilan tetapi lebih mementingkan kecepatan, kepekaan rasa dan sikap keberanian yang besar untuk mencari atau memburu bahan informasi sampai dijadikan sebuah berita. Jika profesi lain memiliki tempat yang menetap untuk melakukan kegiatannya jurnalis bekerja di tempat dan waktu yang tidak tetap. Seorang jurnalis rela bekerja dimanapun dan kapanpun demi mendapatkan informasi. Bukan hanya sampai pada informasi yang didapat setelah itu seorang jurnalis juga harus dapat menyampaikan informasi tersebut kepada khalayak. Tujuan utama dari profesi jurnalis yaitu melaporkan fakta dari peristiwa apapun yang menyangkut kepentingan orang banyak kemudian disebarluaskan kepada masyarakat.
Adapun tugas seorang jurnalis, yaitu mendidik, memberikan informasi, memberikan pengaruh, dan menghibur. Bukan hanya guru saja yang dapat memberi wawasan, jurnalis pun dapat melakukannya bahkan dengan cakupan yang lebih luas. Lebih dari itu jurnalis juga mampu menjadi kontrol sosial sehingga dapat membawa perubahan karena pers telah memegang peranan yang cukup penting bagi suatu negara, apalagi pers di Indonesia merupakan pilar keempat setelah eksekutif, legislatif, dan yudiatif. Artinya menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dengan rakyat.
Begitu berat jika membayangkan profesi ini,tidak bisa terfikirkan bagaimana jam terbang seorang jurnalis yang tidak menentu.
Ada sebuah kutipan yang dikutip oleh Putra Nababan, seorang pembawa berita di salah satu televisi swasta.
“Jurnalistik membuat Anda serba tau meski Anda bukan orang pintar”
Itulah keuntungan menjadi jurnalis, dapat mengetahui semua hal lebih dulu dibandingkan dengan orang pintar sekalipun, bertemu dan berbicara langsung dengan orang-orang hebat saat mewawancarainya.
Hanya jurnalislah yang dapat melakukan semua hal yang belum tentu guru, dokter, sampai direktur dapat melakukannya.
Masyarakat sangat membutuhkan pers sejak dahulu, untuk memantau sistem kerja pemerintah. Oleh karena itu, setiap jurnalis memegang tanggung jawab besar dari rakyat.
Jadi sudah terbayangkah betapa mulianya menjadi seoran jurnalis ? Seberat apapun pekerjaan yg dilakukan jika hasilnya berdampak pada kepentingan orang banyak maka akan menjadi amalan yang besar pula.